Produk Impor Cina Bakal Dibatasi

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah bakal membatasi lonjakan barang impor. Pengendalian impor bakal terus dilakukan meski ada ancaman pelimpahan barang asal Cina yang saat ini sedang berperang dagang dengan Amerika Serikat. “Meski Cina sengaja turunkan nilai tukar yuan, tidak berarti otomatis barang jadi murah dan masuk ke sini,” ujarnya kemarin.

Pemerintah, kata Darmin, memang sedang memilah-milah komoditas barang impor, khususnya barang konsumsi yang semakin tinggi. Seleksi terhadap barang impor akan dilakukan jika ditemukan produk substitusi yang tersedia di dalam negeri.

Karena itu, pemerintah bakal selektif terhadap barang impor baru, terutama limpahan barang akibat perang dagang antara Shanghai dan Washington. Sebagai langkah awal, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah bakal mengendalikan impor produk konsumsi di platform e-commerce.

baca juga : http://eurochart.org/toko-mesin-genset-open-di-jakarta-dan-bali/

Barang-barang yang paling banyak dibeli, seperti pakaian, sepatu, tas, dan mainan, bakal dicarikan substitusinya dari produk dalam negeri. “Ada di satu platform e-commerce jual barang impor 1 juta produk, barang lokal cuma belasan ribu,” ujarnya.

Menurut Bambang, meningkatnya impor barang konsumsi ini yang membuat konsumsi masyarakat seharusnya tumbuh pesat. Tak hanya karena pemerintah belum punya sistem pencatatan transaksi e-commerce yang mumpuni, barang impor tersebut bisa mematik risiko terhadap pengembangan industri dalam negeri. “Selain pakaian, makanan sebenarnya bisa disediakan dari dalam negeri saja,” kata Bambang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor barang konsumsi terus melonjak stabil dari tahun ke tahun.

Terakhir, pada neraca perdagangan Juni 2018, impor barang konsumsi dicatat kuranglebih mencapai nilai US$ 1 miliar. Porsi impor barang konsumsi terus meningkat mendekati 10 persen dari total impor dari tahun sebelumnya, yang cuma ambil andil 6 persen.

Adapun pertumbuhan orang berbelanja barang konsumsi e-commerce pada 2017 mencapai 28 juta orang dengan penjualan lebih dari US$ 7,05 miliar. Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian Edy Putra Irawadi mengatakan pengawasan aktivitas impor juga akan terus dilakukan.

Pemerintah bakal mengandalkan sistem terintegrasi dari ekspor-impor Indonesia National Single Window (INSW). “Barang impor konsumsi memang cuma 9 persen yang resmi, yang tidak resmi itu yang bahaya,” kata Edy.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita tak menampik bakal sulit memangkas impor barang dari Cina. Sebab, Indonesia dan Cina menjalin berbagai perjanjian dagang dengan tarif murah. “Salah satu caranya harus tingkatkan industri supaya kualitas barang tidak kalah saing dan ada peralihan pembelian secara otomatis,” kata dia.