Menjaga Produksi Agar Tak Menyusut

Menjaga Produksi Agar Tak Menyusut


PRODUKSI minyak untuk blok-blok terminasi menjadi perhatian serius Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) dan SKK Migas. Pasalnya, kontraktor migas yang kontraknya habis dan tidak diperpanjang biasanya enggan berinvestasi maksimal di masa transisi. Alhasil, PT Pertamina sebagai kontraktor yang diserahkan blok terminasi harus masuk membantu investasi. Proses transisi atau peralihan blok migas pernah terjadi di Blok Mahakam, saat pemerintah memberikan blok itu ke Pertamina pada 2016. Lantaran kontraknya tak diperpanjang, Total EP enggan mengebor sesuai kewajibannya. Pertamina harus berinvestasi hingga kontrak Total EP habis di akhir 2017 agar produksi Blok Mahakam tidak turun. Saat ini produksi gas Blok Mahakam turun menjadi 957 mmscfd dari semula 1.360 mmscfd. Agar tak terulang, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto meminta penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR) bisa dilakukan Pertamina di Blok Rokan. Ini lantaran Chevron Pasific Indonesia sebagai operator Blok Rokan saat ini, telah melaksanakan ujicoba chemical EOR di Lapangan Minas selama 10 tahun dan fasilitas pun telah tersedia di blok tersebut. “Pilot projectnya sudah. Langsung full scale karena lapangannya sama, fasilitasnya (EOR) sudah di situ,” kata Djoko belum lama ini. Dengan adanya fasilitas EOR yang telah dibangun Chevron, Pertamina dapat langsung menginjeksi bahan kimia pada sumur-sumur minyak tersebut. Saat ini dari hasil ujicoba Chevron di Lapangan Minas, produksinya mencapai 100.000 bph. Setelah EOR dijalani Pertamina nantinya, Djoko yakin produksi minyak Blok Rokan pada 2024 mulai meningkat dan menyentuh 500.000 bph. Saat ini rata-rata produksi minyak Pertamina mencapai 343.000 bph. Jika ditambah produksi Rokan, maka produksi Pertamina bisa langsung melejit menuju 843.000 bph pada 2024. Alhasil, Indonesia akan semakin mengurangi impor minyak mentah.

 

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, selain memakai teknik EOR, Pertamina akan mengerek produksi di Rokan dengan menambah jumlah sumur. “Jadi setiap lapangan berbeda-beda,” ungkap dia. Pada semester I-2018, produksi migas Pertamina sebesar 692.000 barel setara minyak per hari, naik 8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Adapun produksi minyaknya 343.000 bph dan gas 2,02 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Kontributor produksi minyak terbesar datang dari anak usahanya yakni PT Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP Cepu serta Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Selain Blok Rokan, ada lagi produksi jumbo yang bisa diperoleh dari 13 blok terminasi itu, yakni Blok Sanga-Sanga sekitar 10.000 bph dengan produksi gas 70 mmscfd, lalu Blok Jambi Merang, masing-masing produksi minyak 4.500 bph dan gas 100 juta kaki kubik. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menyatakan saat ini produksi minyak dan gas (migas) mencapai 2,16 juta barrel oil equivalent per day.